Sopo Nandhur Mesthi Ngunduh

nandhurMembantu memang tradisi bangsa indonesia dari jaman dulu kala. Bukan hanya itu, membantu juga merupakan nilai dasar islam. Seperti kata Rasul “khairunnaas anfauhum lin naas”. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia yang lain. Ini berarti untuk menjadi manusia yang paling baik, maka harus banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Dengan cara sebanyak mungkin memberikan bantuan kepada sesama. Dengan membantu yang lain, bukan hanya mereka saja yang mendapatkan manfaat, tatapi kita yang membantu juga mendapatkan manfaat yang sama.

Ada sebuah ungkapan jawa yang saya kira cukup inspiratif. Kira-kira begini “sopo sing nandhur bakalan ngunduh” atau barang siapa yang menanam pasti dia akan menuai. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bukan pada sebab akibatnya, tetapi pada kepastian hasilnya. Bahwa setiap apa yang kita tanam, pasti  akan kita tuai. Terlepas yang dituai dalam bentuk apa.

Pelajaran diatas bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Anda pasti pernah membantu orang lain? Sekecil apapun. Anda yang suka senyum kepada orang (jawa: sumeh), anda akan mendapati setiap orang yang bertemu dengan anda selalu membawa aura positif dan nyaris tidak pernah marah dengan anda. (Tidak percaya? Coba buktikan). Karena apa? Karena senyum membantu suasana hati orang yang anda temui menjadi bahagia, kegundahan yang dia hadapi seakan-akan sirna karena anda memposisikan dia sebagai orang yang istimewa dan layak untuk dihormati. Begitu juga dengan orang yang suka meringankan beban teman/saudara, mereka juga pasti akan mendapatkan perilaku yang sama dari saudaranya. saat ada teman yang mendapat persoalan , segera merespon dengan pertanyaan: ”apa yang bisa aku bantu saudaraku?” bahkan sebelum temannya berucap minta bantuan. Coba rasakan, bagaimana sikap anda jika  anda memiliki teman yang seperti itu? Masihkah kita berani untuk berbuat salah kepadanya?

Suatu saat ada yang bertanya : “Lho, aq mau bantu pake apa? Aku khan bukan orang kaya, penghasilanku juga pas-pasan. Mana bisa aku bantu dia?”  dari ilmu yang saya pelajari, ternyata bantu-membantu bukan perkara uang atau materi. Membantu orang itu berkaitan dengan kemauan dan mentalitas. Setiap orang memiliki kelebihan, dengan kelebihan itulah dia bisa membantu. kita masih punya tenaga, koneksi/jaringan, ilmu (nasehat), skill/ketrampilan dll yang bisa dijadikan bekal untuk membantu sesama.

Saat teman kita membutuhkan pekerjaan, mungkin kita bukan seorang bos, tetapi kita bukan orang yang tidak punya koneksi kan? Saat anak teman kita sedang sakit misalnya, mungkin kita tidak bisa membantu dengan uang, tetapi kita bukan orang sakit yang ngga bisa kemana-mana kan? Masih banyak peluang untuk membantu. sekali lagi urusan membantu sesama adalah urusan kemauan dan sikap mental…

Akhirnya, selamat berinvestasi dengan apa yang kita miliki. Suatu saat kita akan mendapatkan hasil dari apa yang kita investasikan untuk sesama. Yakin itu, wa mayyattaqillaha yaj’allahu makhroja, wa yar zuqhu min haitsu laa yahtasibu…

2 Tanggapan

  1. tolong menolong sangatlah dianjurkan,,,,, komponen IKHLAS mungkin bisa ditambahkan dalam tulisan ini🙂
    menolong bukan karna ingin mengharap pamrih…

    • terimakasih atas sarannya mba…

      mungkin yang dimaksud pamrih dari manusia kali ya. jika itu yang dimaksud, benar adanya.
      tapi bahkan jika balasan dari Allah pun tidak diharapkan, koq saya merasa konsep “roja”nya tidak diamalkan. setiap amalan seorang muslim seyogyanya selalu ada pamrih dari Allah… bahasa yang biasa kita pakai ya “tidak ada makan siang gratis” gitu lah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: