Yang Istiqomah di Tengah Derasnya Arus Perubahan

Yang Istiqomah di Tengah Derasnya Arus Perubahan1

Oleh : Uky Abdurrahman 2

Lembaga Pendidikan Islam Mujahidin, sekilas dari namanya terkesan ada unsur garis keras. Mujahid/Mujahidin sudah terlanjur dipandang oleh masyarakat sebagai istilah untuk orang-orang yang turun ke medan perang dengan senjata di pundak. Ternyata, pandangan itu sama sekali berbeda setelah masuk ke kantor atau ruang kuliah dan bertemu dengan para Asatidz (pengajar) dan Santri (siswa). Apalagi jika diamati tingkah laku keseharian, bisa dilihat keluarga besar LPIM cukup dekat dengan nuansa Ilahiyah. Aktivitas semacam tilawah, sholat berjamaah, sholat sunnah, puasa sunnah, tatsqif (pengajian) menjadi hal yang sering dijumpai. Ini sekelumit cerita singkat tentang Lembaga yang berdiri sejak Tahun 1995 ini.

Lembaga ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Mulai dari pendiriannya sampai dengan perjuangan dalam menghadapi era yang serba kompleks. Lembaga ini didirikan oleh para pegiat dakwah masjid Al mujahidin UNY dari kalangan pejabat kampus, dosen, mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Sesuai dengan namanya, LPIM diposisikan sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan budaya islam untuk mahasiswa dan jamaah masjid UNY. Oleh karena LPIM berdiri di area UNY dan berkantor di Masjid Mujahidin maka ditambahkan kata MUJAHIDIN sebagai penjelas identitas domisili.

Sebagaimana tercantum dalam AD/ART LPIM setidaknya ada 3 tujuan didirikannya LPIM. Pertama, memberikan pendidikan keislaman kepada civitas akademika Universitas Negeri Yogyakarta dan masyarakat DI Yogyakarta. Kedua, memfasilitasi civitas akademika UNY dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta untuk dapat belajar islam dengan nyaman dan efektif. Dan ketiga, mengantarkan peserta didik untuk dapat memahami dan mengamalkan islam dengan baik dan benar sesuai dengan syariah. Hal diatas selaras dengan tujuan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta yakni membentuk manusia Cendikia (fikriyah), Madiri (sikap), dan Bernurani (mental/moral).

Tujuan LPIM tersebut direalisasikan dengan penyelenggaraan mata kuliah Madrasah Thulabiyah (perkuliahan untuk para mahasiswa), mata kuliah Tahsin Al Qur’an (membaca Al Qur’an dengan baik dan benar), bahasa arab (belajar menggunakan bahasa arab dalam percakapan sehari-hari), dan kajian intensif tematik pada waktu-waktu tertentu. Dalam Madrasah Thulabiyah para santri diajak untuk memahami bagaimana berakidah yang benar, beribadah yang baik, mengamalkan Al qur’an, belajar hadits serta mengamalkan islam dengan berdakwah.

Kehadiran LPIM UNY menjadi penting dalam dinamika pendidikan di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Saat pendidikan formal tidak mampu memberikan pendidikan dasar (baca: pengetahuan agama) secara proporsional kepada para mahasiswa, LPIM hadir untuk menjawab persoalan tersebut. LPIM juga menyadari sebagian dari mahasiswa yang belajar di berbagai Univeristas di Yogyakarta pernah belajar  di pesantren, pernah menjadi remaja masjid, atau pernah belajar di institusi formal dibawah departemen agama. Cukup disayangkan jika proses belajar mereka selesai sampai disitu karena tidak ada yang mengakomodasi kebutuhan belajar islam mereka. Oleh karena itu LPIM hadir untuk membersamai mereka dalam mendalami dan mengamalkan nilai-nilai islam.

Perlu disadari bahwa hidup pada masa ini, jarak antara benar dan salah, baik dan buruk tipis sekali. Sering kita temui orang-orang yang berbuat benar sesuai dengan syariah malah dipersalahkan layaknya seorang pesakitan. Sebaliknya sering juga kita jumpai juga orang-orang yang keliru justru dipuja-puja. Oleh karena itu, masyarakat khususnya mahasiswa membutuhkan alat untuk mengatur sudut pandang penghilatannya dalam memandang kondisi sehingga terhindar dari kesalahan berpendapat dan bertindak. Pendidikan islam menjadi penting untuk membentuk persperktif dan sikap karena nilai-nilai jelas dasarnya dan tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya. Belajar di LPIM menjadi alternatif pilihan untuk mendalami nilai-nilai islam.

LPIM dan Metode Pembelajaran

Kondisi mahasiswa sekarang berbeda dengan sepuluh atau 20 tahun yang lalu. Globalisasi setidaknya memberikan efek pada pola fikir dan tingkah laku. Arus informasi yang demikian cepat membuat apapun bisa diakses dalam sekejap. Dahulu, saat belum banyak mahasiswa membawa handphone, mereka harus datang ke pusat-pusat informasi untuk mendapatkan informasi tentang suatu hal, misalnya seminar, kajian ilmiah, tabligh akbar, pembukaan kuliah baru dsb. Sekarang, semuanya bisa diakses bahkan dari kamar kos saja.  Pusat informasi kegiatan biasanya sudah bisa diakses via HP.

Perkembangan Teknologi Informasi menjadikan dunia tanpa batas. Dalam waktu yang sama, masyarakat bisa mengakses informasi dari belahan dunia yang lain. Internet, situs jejaring, email, blog, website dan yang lain menjadi kawan akrab bagi mahasiswa. Sayangnya globaisasi tidak selamanya berefek positif. Perubahan besar-besaran ini setidaknya juga membuat pola fikir yang serba praktis. Maunya simple, praktis dan cepat. Bahkan untuk sekedar mencari informasi tentang pelajaran tertentu lebih suka menggunakan referensi blog/website daripada buku. Akses tanpa batas juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang kurang memperhatikan kesusilaan untuk melihat hal-hal yang seharusnya tidak perlu dilihat.

Dengan kondisi yang demikian, maka Lembaga Pendidikan Islam seperti LPIM perlu melakukan terobosan agar mampu mengikuti perkembangan. Beberapa waktu terakhir LPIM telah mulai menjawab tantangan perubahan zaman. LPIM mulai menggunakan blog, dan situs jejaring.  Kemudahan pendaftaran bagi santri baru dengan SMS juga merupakan bukti komitmen LPIM dalam memudahkan mahasiswa untuk bergabung. Dengan berbagai fasilitas tadi, diharapkan mahasiswa dapat dengan mudah mengakses informasi misalnya, bagi mahasiswa yang menginginkan materi tertentu atau informasi kegiatan terbaru bisa membuka situs LPIM via HP atau notebook mereka masing-masing.

Meskipun banyak variasi metode pembelajaran digunakan, LPIM tidak meninggalkan perangkat dasar pembelajaran, yakni tatap muka. Metode Tatap muka / pertemuan kelas tidak serta merta tergantikan dengan blog, email, situs jejaring atau yang lain. Ini adalah bentuk konsistensi dari lembaga ini. Bagi yang sering membaca kisah-kisah para ulama  masa lalu, mereka mejadi sangat faham dengan ilmu yang mereka pelajari karena mereka bertemu dan berdialog langsung dengan guru mereka masing-masing. Pertemuan kelas juga mengajarkan tentang kedisiplinan dan kebersamaan. Ini akan membantu membentuk akhlak para peserta didik. Seperti yang sudah difahami bahwa pendidikan bukan hanya sekedar mengasah aspek fikriah saja, melainkan sampai kepada aspek mental san sikap.

Keterangan :

1 : Artikel ini ditulis untuk buletin sambut Mahasiswa Baru Universitas Negeri Yogyakarta Tahun 2010 oleh LPIM

2 : penulis adalah Direktur LPIM UNY 2009 – 2010

2 Tanggapan

  1. syukran jazilan, pakdhe uky…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: